Kamis, 28 Mei 2020

Beberapa Kabihu dan Marapunya

BEBERAPA KABIHU DAN MARAPUNYA
Oleh: Lazarus Djami, S.Th.
Jumat, 29 Mei 2020


  Kabibu dan Marapunya
No Nama Kabihu Bahasa Sabu Nama Marapu

1 Palai Malamba i Tunggu Watu - i Lili Tai
i Panjanji Lipa
- Lara Hira
2 Pakilungu i Dimu  - i Rawa
i Mamutu
- i mamali
3 Kamandalorangu i Rumbu - i Kapala Rikatu
i Huhu Titangu - i Watu Tanga
4 Menggitu: i Kahi Laku
Mopu i Nggili Nggaka
i Tundu Mbitu i Kahi Laku
i Tai mbaka i Nggili Nggaka
Matamba
i Mbola i Kanuhu
i Hangatu i Hawongu
5 Pariana Bakalu & i Titi - i Nini
Palai Malamba Duangu Reti - Lambongu
6 Ana Kariangu i Hangaru Ngeli - i Hira Matari
i Ngganggaru Mihi - i Maku Tanarara
i Mbapa Boba - i Tunggu Watu
7 Luku Tana i Harandapa - i Walu mandoku
i Mbai Lindaku - i mahalama
i Ngguru Ngguti - Marapu Ratu
Paku Bahi - Mitingu Kawuku
8 Mbarapapa i Kahi Bokulu - i Mbangu Bokulu
i Pala - i Lapu
9 Ana Mburung Do Nahoro Lutungu - i Eti Ndamung
i Pala - i Lapu
10 Kanilu i Rambu Wundu - Mahanoru
Pamara Wihi - Pamara Lima
11 Kahiku I Manggedingu - i Malara Nau
i Mutu Lumbu - i Wai Jilu
i Pala - i Lapu
12 Mbaradita Do Habadida I Dewa Lodu - i Dewa mada
i Pati Pakokangu - i Ndilu Pararangu
13 Kurungu I Panda - i Baka
Ndjilu - i Tai
14 Kaburu I Hulung - i Kaburu Bokulu
I Lemingu - i Tarangu Langu
15 Daindipi I Ropa - i Nyali
i Labi - i Mata
i Kabala - i Manyapai
16 Kanula I Tata - i Hawura
17 Watuwaya i Kaluu Rihi - i Lakaru Madangu
18

19


20 Marapati I Nyamba - i Hawongu
i Tangga Wandu - i Rangga Wandu
21 Wiki I Manggedingu - i Malara Nau
i Mutu Lumbu - i Wai Jilu
22 Kawata I Habi - i Lunga
i Kora - i Naya
i Maenggalu - i Mutu Romu
23 Watu Pelitu I Lua Wuli - i Londa Wudi
i Hina Leha - i Li Paramba
i Huru Dinga - i Ana Lalu
24 Palamidu I Nduli - i Mbijiku Mbaku
i Halaja - i Mbola Nggadi
i Ratu Nggai - i Pangga Leu
25 Watubara/Waitumba I Pandi Kani - i Malowa Langgi
26 Katoraku I Tai - i Mbongu Meha
i Pajulu - i Pawenangu
27 Rurara I Tai - i Mbongu Meha
i Pajulu - i Pawenangu
28 Teba I Rongga - Kawarangu
i Nuku - i Mbai Hela
29 Kadumbul I Owa - i Kalaki
i Kambala - i Pali Wangu
i Endalu - i Mula
30 Ana Mawa I Watu Kambaru - i Rengga Mbulu
31 Maya I Patamu - i Ratu Dara
32 Luku Bakalu I Pabonggaru - i Ratu Lapa
Kawindu Padangu - Ngaru Oka
33 Mamburu I Wala Webu - i ratu Titi
i Kanjudi - i Talu Laku
i Harandapa - i Walu Mandoku
34 Matalu Masowolu - Ndaremu
35 Tidahu I Lawahu - i Kambaru Hihu
i Kamba Landu - i Jara Wua
36 Maleri I Katindi - i Luwa Ratu
i Mahindaku - i Mangguli
37 Kanula I Tata - i Hawura
38 Luku Walu I Talu Namba - i Karata Endi
39 Lamuru
40 Wilimaya I Huri - i Lapatu
i Kanjudi - i Talu Laku
i Endalu - i Mula
41 Karuku I Mbola Mbai - i Dewa Hambu
i Panduka - i Pati Hina
42 Rindi I Mangungu - i Dangu Nggai
i Lua Kamundi - i Manu Tara
43 Kurungu I Panda - i Baka
I Ndilu - i Tai
44 Palamudi I Nduli - i Mbijiku Mbaku
45 Kaburu I Hulungu - i Kaburu Bokul
i Lemingu - i Tarangu langu
46 Muruuma I Mbongu - i Mbaku
i Beha Tengga - i Watu Homba
47 Matalu I Mehawulu - i Mandarimu
Makapali - Makanjangaru
48 Nipa
49 Matolang
50 Talora
51 Mahora
52 karinding






NB. BOLEH DITAMBAH Dsb………






PENGHINAAN ITU SUMBER KEKUATAN


PENGHINAAN ITU SUMBER KEKUATANMU
OLEH: LAZARUS DJAMI, S.TH.
KAMIS, 28 MEI 2020
______________________________________________

SEGALA LUKA BELUM TENTU BERNANAK
SEGALA PENGHINAAN BELUM TENTU MEMBUATMU KEHILANGAN SEMANGAT
SEGALA FITNA TIDAK MENJADIKANMU PEMARAH
KARENA MASA DEPAN ITU DALAM DIRIMU
TIDAK PENTING APA YANG ORANG PIKIRKAN TENTANGMU
ANGGAPLAH ITU PUJIAN YANG MENJADIKAN ENGKAU TANGGUH DALAM HIDUP INI.

Rabu, 20 Mei 2020

PERZINAHAN - HIDUPLAH KUDUS DAN JAUHILAH PERZINAHAN

ZINAH- Hiduplah kudus dan jauhi perzinahan
Ams 6:32
Siapa melakukan zinah tidak berakal budi;
orang yang berbuat demikian merusak diri.
Oleh: Lazarus Djami, S.Th.-Jumat 15 Mei 2020
I. TIDAK MENGHORMATI PERKAWINAN YANG SAH
Zinah, merupakan perbuatan jahat dan keji, sebagai perilaku yang tidak senonoh, dan merusak kehormatan diri.
Dewasa ini zinah ditujukan kepada mereka yang sudah berumah tangga, tetapi tidak dapat menahan nafsu berahinya. Zinah sebagai pelanggaran seksuil (1Kor 6:13-18; 7:2; Ef 5:3 dan lain-lain; melanggar kesusilaan perkawinan: Mat 5:32; 1Kor 5:1). Zinah merupakan hubungan tanpa sepengetahuan/sembunyi dari dan kepada suami atau istri (pasangannya masing-masing).
A. Hukum Allah: Zinah dalam berbagai agama pun dibicarakan, seperti:
a. Budha: melanggar sila ke-3 Pancasila, yang akan membawa seseorang ke neraka dan membuat hidupnya tidak tenang
b. Islam: sebagai perbuatan yang keji dan dosa besar
c. Yahudi: sangat melarang dengan jelas pada Perjanjian Lama
d. Kristen: zinah timbul dari hati, hati merupakan pemicu timbulnya segala keinginan jahat (1 Petrus 2:24 bd. Mat. 15:18-19). Sehingga orang yang berkanjang dalam dosa perzinahan adalah sebagai hati yang terus dilatih dalam segala keserakahan. Orang yang berbuat demikian tidak akan mendapat kerajaan Allah (I Kor. 6:9) 2Ptr 2:14  Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!
Mat 5:32  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. (Mat 19:9; Luk 16:18  ) Mrk 10:12  Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."
Hormatilah perkawinanmu, dan jangan mencemarkan tempat tidurmu (Ibr. 13:4)
Darimana datangnya perzinahan? Keinginginan
Mengingini adalah keininginan atau hawa nafsu yang dititah dalam ke-10 hukum dan melarang segala ‘kenginginan’ yang berlawan dengan Firman Tuhan (Kel 20:17; Rom 7:7; 13:9). Ketika seseorang mengingini sesuatu maka seluruh kepribadiannya terlibat dalam keinginan itu. Jika apa yang diingini bersifat salah dan keinginan itu tidak terkendali, maka akibatnya ialah pengrusakan kesejahteraan orang lain. Karena itu Titah ke-10 melarang keinginan dan keserakahan. Kata Yunani epithumia mengungkapkan keinginan yang kuat, apakah itu hal yang baik atau buruk harus ditentukan dari kalimat sekitarnya. Kata ini juga dipakai untuk keinginan Kristus yg murni (’ Aku sangat rindu’, Luk 22:15) dan keinginan Paulus untuk ‘pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus’ (Fili 1:23) atau keinginannya bertemu dengan orang-orang yg bertobat karena pelayanannya (’ rindu yg besar’, 1Tes 2:17). Sedangkan dalam arti buruk epithumia diterjemahkan baik keinginan maupun hawa nafsu (Rom 6:12; 8:7; 13:14; Kol 3:5; Yud 1:16). Epithumia berarti keinginan berahi (seks) Mat 5:28; Ef 2:3; 1Yoh 2:16; 1Pet 2:11. Istilah Yunani pathos (1Tes 4:5) dan hedone (Yak 4:3) juga diterjemahkan keinginan. Apabila keinginan jahat tidak disalibkan tapi dibiarkan, maka keinginan itu bernyala seperti api (Kol 3:5). Pada pihak lain, keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging (Gal 5:17), dan pada saat seorang mengingini Tuhan serta karunia-karunia-Nya yg terbaik (1Kor 12:31) maka tubuh manusia menjadi alat kebenaran (Rom 6:12).
Sebab itu,
Kel 20:17  Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu." Kel 34:24  sebab Aku akan menghalau bangsa-bangsa dari depanmu dan meluaskan daerahmu; dan tiada seorangpun yang akan mengingini negerimu, apabila engkau pergi untuk menghadap ke hadirat TUHAN, Allahmu, tiga kali setahun. Ul 5:21  Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu. Ul 21:11  dan engkau melihat di antara tawanan itu seorang perempuan yang elok, sehingga hatimu mengingini dia dan engkau mau mengambil dia menjadi isterimu.
B. Hukum Dunia:
Banyak negara dengan peraturannya masing-masing yang patut dan harus ditaati oleh semua warga negaranya. Demikian pula dalam hal perzinahan diatur sedemikian rupa, sehingga warga nrgara dapat menghormati arti sebuah pernikahan.
Indonesia: Jelas pada pasal 284 KUHP, terancang hukum pidana, jika yang melakukannya adalah salah seorang dari wanita atau laki-laki dalam status sudah menikah; sebab melanggar kehormatan perkawinan.
Amerika:  dihukum 2 tahun penjara atau 18 bulan dan denda $10
Eropa: Zina tidak dihukum
India: dilakukan oleh laki-laki/perempuan, walaupun masih bujang. Laki-laki akan dihukum 5 tahun penjara, sementara perempuan tidak.

II. Sebagai bentuk Persembahan Berhala
Secara kiasan dalam arti:  penyembahan berhala, sebagai kenajisan ibadat; Rom. 2:22 Ketidaksetiaan dan murtad terhadap Allah Israel, khususnya dalam kitab Yehezkiel dan Hosea. Im 17:7  Janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun-temurun. Why 2:14  Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. Why 2:20  Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.
Hiduplah kudus dan jauhi perzinahan


PERNAN SABDA ALLAH DALAM PERNIKAHAN DAN MAKNANYA BAGI PEMUDA/I MASA KINIY


Peranan Sabda Allah dalam Perkawinan
dan
Maknanya bagi Pemuda/i Masa Kini
Oleh: Lazarus Djami, S.Th.


Prakata
Dengan penuh ketulusan saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan, karena sejak saya tamat SMK, sampai saat ini begitu rindu untuk menulis sebuah artikel yang kiranya bermanfaat bagi  para pembaca tentang berbagai pokok penting dalam persoalan yang dihadapi oleh anggota gereja Tuhan saat ini.  Akhirnya dalam sebuah perjalan panjang, salah satu pokok tentang suatu pokok besar “Peranan Sabda Allah dan Maknanya bagi Pemuda/I Masa Kini” dapat diselesaikan juga. Berbagai data saya peroleh bertepatan Paraktek Kerja Lapangan (PKL-Jun 2008-Jan 2009) dari STTJC.
Jika dulu praktek ketidakadilan di dengar masih menjadi sebuah misteri; tetapi ketika saya menelusuri bentara Sumba Timur banyak praktek yang demikian, terlihat dan temui, seperti pencurian, poligami, adanya perbedaan derajat antara para bangsawan dan para budak (hamba) dsb. Hal-hal seperti itu yang tidak tahu, sampai kapan usainya. Menyadari akan banyaknya kekurangan dan kelemahan yang masih menggeluti pulau cendana tercinta ini, dan bagaimana menghadapi derasnya gelombang dunia yang kian hari membawa pengaruh kepada generasi muda/i, hampir dari segala arah.  Maka dari hal itu, saya memberanikan diri untuk menyumbangkan sebuah pemikiran yang kiranya berguna dikemudian hari  kepada pemuda/i Sumba Timur pada umumnya.
Gagasan itu muncul dalam pemikiran saya ketika banyak cemooh dari berbagai pihak yang menyatakan bahwa Gereja yang tidak melakukan adat adalah gereja biadab, keberadaan gereja jangan mengubah adat-istiadat Sabu/Sumba, hal yang sama pun telah dituduhkan pada para murid oleh musuh-musuh mereka (Kis. 6:14) dsb. Namun dari semuanya itu Tuhan tidak pernah membiarkan gereja-Nya sendiri Ia tetap menolong, sebab Ia yang berjanji akan melingdungi sampai kesudahan alam ini (Mat. 28:20b), sebab Kristus berkata: “ Berbagahialah kamu, jika karena Aku kamu di cela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat. 5:11-12). Dengan pertolongan Tuhan yang terus membangkitkan keinginan dan rasa solidaritas yang kuat untuk menyadarkan pemuda/i dalam menjaga diri dari segala pengaruh adat kekafiran yang bertopengkan budaya dan tetap berlaku sebagai pemuda/i yang takut akan Tuhan (Maz.199:9).
Dalam berbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan hal tersebut di atas, sudah barang tentu berbagai pihak entah itu dari dalam gereja, maupun di luar gereja mencoba untuk menjawabnya. 
Gereja sedang menghadapi tahapan yang sangat penting dalam sejarah perjalanan sejarahnya. Berbagai perubahan yang bersifat internal maupun eksternal tidak dapat dipungkiri akan berpengaruh pada tata kehidupan bergereja. Masa depan gereja akan ditentukan oleh sikap, keputusan dan tindakan kita dalam menyikapi berbagai perubahan. Bagaimana sikap yang seharusnya dari pemuda/i gereja di daratan Sumba Timur dalam menitik kehidupannya ke arah yang lebih baik? Yang  dikuasai oleh kasih dan terutama takut akan Tuhan? Sekalipun lewat banyak tulisan, artikel ataupun buku yang dikaji secara terbuka tentang kemalangan dan terpojoknya, keadaan gereja semakin hari semakin menggelisahkan; tentu semua itu disebabkan oleh banyak faktor. Semua hal itu tidak ada gunanya jika tidak ada kesadaran dari anggota gereja untuk bangkit dari keterpurukan budaya kekafiran yang selalu membelenggunya. Bahkan tulisan ini pula tidak akan berguna, jika gereja secara lembaga dan anggota gereja secara pribadi sendiri tidak menyadarinya. Ingatlah bahwa tujuan penulisan ini bukan mengungkapkan citra belis dimata para pembaca, namun pengetahuan secara holistik tentang eksistensi belis yang sesungguhnya.
Semoga pokok pikiran yang saya tuangkan dalam karya tulis ini, akan senantiasa memberikan pola pikir baru dan berguna sebagai “api pengharapan” yang berkobar ke arah yang lebih cemerlang, dan tidak lupa pula bagi semua para pembaca yang cerdas, penulis mengaharapkan agar dapat memberikan sumbangsih pemikiran yang berguna bagi kajian selanjutnya. Dengan mengutip ungkapan ibu Anggreni, “Semoga kajian ini pula berseru bagi melati kecil di tengah terhempasnya adat-istiadat, kebiasaan dan sistem nilai yang lebih banyak berpihak pada orang yang kuat, ataukah berlalu bersama butir-butir pasir sepanjang pantainya? Semuanya bergantung pada hati nurani, sebab masalah “Belis” dan akibatnya bagi generasi muda/i di pulau cendana ini akan terasa membosankan”. Karena itu jangan kita menyepelehkan masalah ini, sebab didalamnya membutuhkan kepekaan untuk mampu membawa Sumba tercinta ke arah yang lebih cemerlang, transformasi budaya dan yang terutama takut akan Tuhan. Biarlah suatu saat akan muncul riuh kesadaran tentang betapa banyak praktek ketidakadilan dirasakan demi pengabdian pada budaya patriakhal, sebagai kebanggaan yang sia-sia. Lalu, entah sampai kapan akan tergugah kepedulian terhadap pencerahan asumsi sosial budaya yang telah melekat pada setiap lini adat, yang dengan pongah mematerikan berbagai praktek diskriminatif.
Tentang pokok dalam tulisan ini, saya mencoba menelusurinya dari kenyataan yang ada dan kemudian dikaji dalam sudut pandang alkitabiah. Maka upaya mencari benang merah antara belis sebagai sebuah adat yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sumba, perlu adanya pengorbanan seperti waktu, tenaga, materi, dsb. Titik tumpu tulisan ini terletak pada “Peranan Sabda Allah dalam Perkawinan dan Maknanya bagi Pemuda/i Masa Kini.”
Kiranya dengan tulisan ini diberkati oleh Tuhan, sebagai langkah awal dalam mewujudkan generasi muda/i Sumba Timur yang takut akan Tuhan.
Akhirnya tulisan ini terutama saya persembahkan bagi seluruh Pemuda/i Gereja-Gereja Sumba.
Pengkhotbah 12:12
“Lagipula, anakku, waspadalah!
Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya,
dan banyak belajar melelahkan badan.”
Berhubung dengan suatu pokok besar yang dibicarakan dalam kajian ini, yaitu tentang “Peranan Sabda Allah dalam Perkawinan dan Maknanya bagi Pemuda/i Masa Kini.” Maka untuk menjawabnya, diawali dengan suatu pertanyaan “Pernikahan bagaimanakah yang Benar?” Dari pertanyaan ini akan muncul kembali berbagai persoalan, umpama: Apakah ada perkawinan yang salah? dsb. Dengan demikian, kita dapat menjawab semua pertanyaan ketika kita menyelusurinya dari situasi budaya dalam perkawinan adat di Sumba Timur.
A. Pengertian Budaya
Setiap bangsa di dunia ini yang hidup bermasyarakat senantiasa memiliki pandangan hidup pada suatu konsep idiologi tertentu, seperti yang dimiliki oleh oleh bangsa Indonesia pada umumnya, itulah yang dapat kita ketahui dengan istilah budaya. Apa itu budaya? Banyak arti yang dapat kita artikan pada budaya itu.  Bahkan budaya itu sendiri telah ada dan akan ada dalam masing-masing kaum, suku, ras, golongan dsb; baik itu sengaja atau tidak sengaja, telah terbentuk suatu budaya. Budaya itu sendiri bersifat tertulis dan lisan, (yang dipelihara berdasarkan kebiasaan, turun-temurun). Hal itu pula yang terjadi di daratan pulau selatan Indonesia ini. Sebelum Injil masuk di Sumba, mereka telah memiliki banyak budaya, diantaranya dalam hal pertanian, peternakan, kesenian, kematian dan masih ada banyak budaya lainnya termasuk dalam pernikahan. Warna-warni dari budaya setempat tidak terlepas dari kepercayaan yang bersifat animeisme yaitu kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang yang dapat kita kenal dengan kata “Marapu”; yang terkait erat dengan budaya Sumba.

Pengertian Budaya
Berbicara tentang budaya, itu berrti bicara soal pribadi seseorang, maka sebagian orang telah berpikir bawa budaya itu baik adanya sebagai tatanan sosial dan tidak boleh diobrak-abrik/diubah; akankah kita dapat melihat bahwa budaya itu baik-baik saja ataukah diisolisir oleh berbagai kepercayaan kafir/kebudayaan yang diwarnai kekafiran? Ada suku-suku bangsa yang seluruh sistem kehidupan suku itu terkait dengan agama; misalnya dalam hal berkebun, beternak, membangun rumah, perbedaan kasta, adat perkawinan (maskawin) dll. H. Venema, Ilmu Liturgi, hlm. 186, 190 Itulah sebabnya Pekabaran Injil tidak berani mencampuri unsur kebudayaan asli. Terlihat banyak hal dalam kebudayaan dan kehidupan manusia yang berkaitan dengan penyembahan berhala dan tentang itu Alkitab berkata – Kol.3:5-10; Rm. 6:6; Ef.4:2. Karena itu disinilah kita temukan aktivitas manusia (budayanya) mengandung dua macam kelakuan: ada yang dibuang/ditinggalkan dan ada yang dikenakan . Sehingga (Kis.16:21) “dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya."
 Jika gereja tidak mendalami makna dan menelusuri dengan cermat berbagai kebudayaan yang ada di daratan Pulau Cendana ini, maka semuanya tidak akan diketahui secara kompleks. Apa sebenarnya budaya itu? Budaya sendiri berasal dari Bahasa Belanda Cultuur - Inggris - Culture, Arab - Tsaqafah dan Latin - Colere). Yang artinya mengelola, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Sementara dalam Bahasa Sansekerta sendiri budaya berasal dari kata “Buddayah” sebagai bentuk jamak dari budi = akal.  Dalam pengertian Bahasa Indonesia, budaya itu sendiri berasal dari dua kata yaitu “budi” dan “daya”. “Budi” sendiri berarti pengertian, kepandaian, akal dsb. dan “daya” artinya: kekuatan, usaha, karya, dsb. Jadi pengertian kebudayaan adalah hasil usaha manusia yang dipertahankan, yang dilestarikan, yang dipelihara, atau sesuatu yang dianggapnya penting di dalam tindakannya. Sehingga, budaya adalah hasil dari suatu tindakan yang diciptakan oleh manusia sebagai keadaan yang sering dilakukan (tindakan yang terus-menerus dibuat) yang dapat disebut sebagai tradisi dan pada akhirnya membentuk suatu kebudayaan/dibudayakan.
 Apakah budaya sama artinya dengan tradisi? Seperti halnya di atas, bahwa budaya adalah usaha manusia untuk mempertahankan sesuatu yang telah lasim dilakukan, yang merupakan tradisi dan pada akhirnya menjadi suatu budaya pada suatu masyarakat tertentu. Sementara tradisi sebenarnya dalam hal itu, J. Verkuyl menyatakan bahwa adat-istiadat berasal dari  kata Arab, yaitu “Ada” yang artinya kebiasaan, cara yang lazim, kelakuan yang telah biasa, aturan yang lazim, sebagai kumpulan aturan-aturan dan norma-norma hidup di dalam suatu persekutuan suku tertentu. Sehingga tradisi adalah kumpulan peraturan dan norma-norma hidup yang berlaku di dalam persekutuan suku tertentu yang terletak pada perasaan hidup yang naturalis-panteistis. Jadi budaya bukan tradisi, tetapi tradisilah yang akan membentuk/menjadi sebuah budaya. 
Seperti ungkapan D. A Carson dan John D. Woodbidge menyatakan, “Tradisi merupakan warisan turun-temurun dari generasi ke generasi, yang bersifat lisan yang dihasilkan oleh cara hidup yang begitu primitif dan tidak bereksistensi”. Sementara budaya merupakan usaha bersama-sama suatu kelompok masyarakat dalam menyepakati sesuatu hal dari tradisi yang ada sebagai bentuk kebudayaan setempat.
Apakah budaya itu masih tetap benar? Tentu jawaban ini tidak dapat dijawab dengan sepintas seperti ya, atau tidak. Namun perlu ditelusuri dari awal penciptaan Allah, setelah manusia diciptakan.
Allah telah menciptakan manusia menurut Gambar dan Rupa-Nya (peta dan teladan Allah - dalam kekudusan, kebenaran dan pengenalan akan Allah). Manusia sendiri sudah memiliki sikap dasar yang berbudaya. Sifat ini tidak dapat disingkirkan dari manusia baik itu sebelum atau setelah kejatuhannya; budaya tetap ada. Sebab oleh budaya manusia berniat (berkarya) dan tetap mempertahankan apa yang menjadi kebiasaannya. Lalu, apa sebenarnya budaya manusia pertama  sebelum kejatuhan? adalah satu jawabannya: “mengasihi Allah dengan sebulat hati, memelihara ciptaan-Nya dan mengasihi sesamanya, (Mat. 22:37-40) memelihara bumi, bukan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, keluarga, kelompok atau pun golongan. Sesudah manusia diberi mandat berbudaya, maka manusia hidup dengan senang.
Budaya seperti itulah yang baik, budaya yang tidak berdosa, dan yang terus-menerus dipertahankan; tetapi apakah budaya itu hingga kini masih baik? Dan tetap menjadi suatu kebenaran untuk mengenal Allah sebagai penyataan umum? Manusia kini berbalik bukan lagi mengasihi Allah dan sesamanya, malahan menjadi musuh, saling membunuh (Kain dan Habel-Kej.4), juga dalam Kej. 3 menjelaskan pada kita bagaimana proses kejatuhan manusia dalam dosa. Setelah itu tidak ada satupun lagi yang hidup dan berjalan pada ketetapan Allah. Walaupun demikian, manusia tidak berhenti berkarya, namun semua itu bermuara kepada kebinasaan sebab telah jauh daripada Allah dan mementingkan diri sendiri (Kej.  4, 11). Jelaslah bahwa tujuan kebudayaan sesungguhnya telah berubah menjadi kefasikan dihadapan Tuhan, apapun bentuknya.
Stephen Tong menyatakan, “tidak benar jikalau kita mengenal Allah dengan baik dalam penilaian manusia, sebab Allah adalah sumber nilai”. Membenarkan pernyataan itu, Ds. P.P.Goossens menulis dalam Ringkasan Pengajaran Kristen bahwa ketika manusia telah memecahkan perjanjian itu, manusia tidak setia lagi dan tidak sanggup mengenal Allah sebagai Penciptanya.
Demikian pula J. Verkuyl menyatakan bahwa, Adat-istiadat tidak menjadi sumber pengetahuan tentang yang baik dan benar, karena adat-istiadat itu penuh dengan ketahyulan dan guna-guna, penyembahan kepada berhala dsb. Adat-istiadat sebagai sumber kerusuhan (Rom. 2:14-16). Memang sangat menarik pernyataan ini “adat-istiadat sebagai sumber kerusuhan” dalam hal apa? Hal ini kita akan temukan dalam pembahasan selanjutnya.
Karena itu, mari kita pikirkan bahwa yang baik itu belum tentu benar, tetapi yang benar tentu baik. Umpama saja, dalam hal berbahasa, di seluruh pelosok Nusantara ini, tahu benar bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, karena itu masyarakat Indonesia berusaha untuk mempelajari bahasa itu; tetapi apakah tata Bahasa Indonesia yang dipakai di dikalangan kaum intelektual sama dengan Bahasa Indonesia yang digunakan oleh rakyat biasa? Atau dialek Bahasa Indonesia yang digunakan di Sumba sama dengan di Jawa? Tentu beda, berdasarkan pengetahuan, dialek yang dimilikinya, walaupun dapat dimengerti. Demikanlah juga dengan adat, ada yang baik, tetapi belum tentu benar berdasarkan aturan, kaidah satu-satunya, dan yang sebenarnya yaitu Firman Tuhan.
Kini setelah kejatuhan, budaya itu sendiri telah tercemar oleh dosa? Sthepen Tong menjawab itu dengan menyatakan bahwa, akibat kejatuhan, maka peradaban manusia tentang budaya merosot; “bahkan segala sesuatu berada dalam dosa. Adakah yang tidak tercemar oleh dosa setelah kejatuhan? Perhatikan apa yang dikatakan Paulus dalam suratnya kepada sidang Tuhan di Roma 3:10-18”. Bagaimana pun alasannya untuk mempertahankan budaya yang tidak sesuai dengan Firman Allah adalah dosa adanya. (Bdk. Khm. M. ke-2 Sj. 8) bahwa, begitu rusak, sehingga kita sama sekali tidak sanggup berbuat apapun yang baik dan cenderung pada yang jahat saja. Demikian pula Hennk Venema menyatakan bahwa karena dosa, kebudayaan manusia tercemar dan rusak sampai ke dasarnya. Sekarang, tujuan hidup manusia bukan lagi untuk kemuliaan Allah, melainkan untuk kehormatan manusia...Manusia mengusir Tuhan dan mengambil alih posisi Allah. Manusia memberontak melawan Tuannya (pemiliknya), dan tidak lagi menerima Tuhan sebagai atasan yang berkuasa atas dirinya. Manusia menjadi atasan tertinggi untuk dirinya sendiri; manusia telah memutuskan hubungannya dengan Allah. Dan akibat pemberontakan itu sangat nyata dalam kebudayaan manusia. Dalam segala cara hidupnya...segala tingkah laku manusia mencerminkan hati yang telah tercemar oleh dosa dan ketidaktaatan. Manusia hidup jauh dari Allah, Penciptanya. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, kebudayaannya adalah presentasi revolusi, kegelapan dan kesia-siaan.  Itulah yang disebut oleh G. Riemer sebagai kebudayaan yang salah alamat. Sebab, setelah kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 3), manusia telah jauh dari Allah sumber hidupnya, segala pemikirannya adalah sia-sia, jahat dimata Tuhan (Kej.6). Namun manusia sendiri tidak berhenti untuk beraktifitas berdasarkan keadaannya. Manusia terus mencoba untuk mencari Allah, tetapi ketika manusia mencoba untuk mencari Allah malah ia semakin menjauhi Allah. Mengapa demikian? Sebab manusia mencoba untuk membuat allah-allah baginya, dengan tujuan mengembalikan keadaan Allah yang dahulunya yang bertindak sebagai patner. Akan tetapi inilah yang membangkitkan kemarahan Tuhan; sebab Ia tidak pernah memberikan kehormatan-Nya kepada makluk apapun, sebab itu Ia begitu cemburu terhadap penyimpangan yang demikian (Bdk. Katekhismus Heidelberg Minggu ke-35 Sj. 96-98).. Apapun usaha manusia di dalam budaya untuk Allah semuanya menuju kepada kesia-siaan.
 Dalam majalah “Panggilan Kita” dengan tegas  menyatakan, “memelihara adat-adat kafir itu suatu durhaka yang dibuat kepada Kristus sendiri. Karena Kristus telah datang ke dalam dunia bukan supaya umat-Nya tinggal memelihara hubungannya dengan Iblis, melainkan akan meremukkan kepala ular (mengalahkan Iblis) dan membinasakan perbuatan Iblis (IYoh.3:8b); mengadakan perseteruan dan permusuhan dengan Iblis, supaya umat-Nya jangan menurut kehendak Iblis lagi, melainkan menurut kehendak Tuhan. Untuk maksud inilah Tuhan memanggil umat-Nya akan mengajar dia dan membawanya kepada “Kebenaran”. Apakah kebenaran  itu masih ada di di dalam gereja Tuhan? Untuk mengetahui itu, maka perlu sekali kita mengetahui tentang gereja yang benar. Jadi gereja yang benar tidak boleh memelihara dan mempertahankan kebiasaan kafir itu, tetapi membuangnya segala sesuatu yang berlawanan dengan Sabda Allah dan supaya kita berlaku seturut dengan Firman-Nya yang murni seperti yang dibuat oleh sidang pertama di Yerusalem”. Dan hal tersebut pula dengan tegas dalam Majalah Panggilan Kita, lagi menyebutkan bahwa, “Torat bertentangan betul dengan adat kafir. Karena yang menjadi aturan segenap kehidupan yang telah diberikan Allah kepada manusia ialah Torat-Nya, Torat itu ditulis dalam hatinya ketika ia dijadikan Allah. Lalu adat kafir keluar dari hati, yang telah tercemar oleh dosa dan jahat segala aturan adat, kebaktian kepada berhala, hal kawin, hal kubur orang mati, hal perdamaian, semuanya keluar dari hati yang berbalik dan jahat. Pendeknya aturan asli manusia yaitu Torat, telah diganti dengan adat-adat yang dosawan, yang dasarnya ialah keadaan manusia yang telah berbalik dan jahat adanya”. Sehubungan dengan itu William Barclay menyatakan, “Alkitab sebagai Firman Tuhan adalah kanon yang paling sempurna diberikan Roh Kudus kepada para nabi, rasul-Nya yang menjadi falsafah hidup beriman dalam kehidupan tertinggi bukannya adat nenek moyang”.
Menjadi jelas bahwa orang yang mengakui dirinya seorang kristen dan tinggal tetap dalam kebiasaan kafir (bukan budaya secara umum) adalah pengikut Iblis yang bertopengkan kekristenan. Jadi dosa merupakan fakta kekuatan yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti bekerja dalam bidang apapun untuk menjauhkan manusia dari Allah, termasuk dalam budaya itu sendiri yang oleh Petrus menyamakan itu dengan singa yang mengaum-ngaum dan menunggu saat yang tepat untuk menerkamnya (1Ptrs. 5:8). 
Jikalau kita tidak jeli dalam mempertahankan budaya itu, maka kita akan mencampuradukkan antara kehendak Allah dan kehendak manusia; dan hal itu sebagai sinkretisme. Lalu, Apakah budaya harus dihilangkan? dibuang seperti sampah? Ketika Injil diberitakan kepada orang kafir, dan akhirnya mereka percaya, apakah yang akan dibuat dengan kebudayaan mereka? Apakah budaya mereka dianggap dosa? atau lebih bijakkah jika kita memanfaatkan kebudayaan setempat guna pekabaran Injil? Pertanyaan demi pertanyaan seperti itu akan muncul dan  kita harus berpikir baik-baik sehingga tidak dengan secepatnya mempersalahkan budaya secara umum (bukan adat/tradisi kafir), itulah yang dikatakan oleh H. Venema bahwa hendaknya kita tidak menarik kesimpulan yang keliru. G. Riemer, menyatakan bahwa, harus diketahui bahwa budaya itulah identitas mereka, apakah budaya itu harus dibuang seperti sampah? Sejauh mana gereja bertindak. Bukankah sangat arif bila kita menggunakan budaya itu sebagai media untuk kemuliaan Tuhan?  Kebudayaan itu sendiri bukanlah hal yang buruk, yang buruk adalah dosa yang ada di dalam kebudayaan itu. Dosalah yang merusak kebudayaan. kebudayaan harus disembuhkan, bukan kebudayaan yang harus dibasmi, dosalah yang harus dibasmi dari kebudayaan manusia ... budaya baru .
Lalu mengapa beberapa orang berpikir, bahwa Gereja harus “Anti Budaya?”. Atau dengan perkataan lain seperti: Gereja yang demikian sama sekali tidak berbudaya, Gereja anjing, Gereja yang biadab? Celaan demi celaan dilontarkan oleh mereka yaang sama sekali tidak mengenal dan arti sesungguhnya dari keberadan Gereja di Sumba. Janganlah kita ragu, jangan kita takut, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, celaan dengan celaan, tetapi berdoalah untuk dia (bdk. Mat. 5:44; Luk. 6:28; Rom. 12:17-18) dan tunjukkanlah dalam sikap hidupmu sebagai teladan/surat Kristus yang hidup (1Tim. 4:12;1Pet. 5:3) sebab benarlah Firman Tuhan, sebab sempitlah jalan menuju hidup yang kekal dan lebarlah pintu menuju kebinasaan ( bdk. 2Pet.2:2) sedikit orang yang mau masuk (bdk. Mat.7:14) Dengan demikian, marilah juga kita berpikir positif, seperti apa yang Kristus katakan melalui Paulus: (Filp.1:29) “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,”  dan mungkin kita akan berduka, tetapi ingatlah, bahwa Kristus telah dahulu menderita untuk kita (1Pet.2:21), maka Kristus pun berkata: Mat. 5:4 “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Maka bagi orang-orang yang demikian Kristus akan memujinya dan berkata: Wahyu 2:3 “Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.” dan “....Sabarlah menderita....” (2Tim.1:8; 2:3; 4:5;), sebab akhirnya Ia memberikan keselamatan (bdk. 1Pet.3:14; 5:10; 2 Pet. 2:7) Dengan kasih yang tulus di dalam Kristus, kami berseru: Ini sangat benar, sebab itu sekali lagi kami tegaskan, bahwa bahwa keberadaan Gereja pun tidak menghilangkan budaya, yang selama ini orang berpikir secara picik akan hal itu, namun apa yang dibuat dalam Gereja? Bukan menghilangkan semua budaya, namun budaya yang tidak dipertahankan adalah budaya kekafiran yang sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran Alkitabiah. Itulah maksud, bahwa Gereja bukan penentang/pembasmi semua budaya, tetapi ada budaya-budaya yang sama sekali tidak ada kebanaran di dalamnya hanyalah kebohongan, penyelewengan kebenaran dsb.
Saya berpikir sejenak, kemungkinan orang yang seenak mulutnya komat kamit mengatai bahwa keberadaan gereja, sebagai sumber masalah, tentu gereja dalam hal ini mengaharapkan “bertobat”, dan jangan memfitnah. Mungkin orang tersebut ada sesuatu hal yang tidak memuaskan dia dalam kedagingannya tidak dipuaskan, maka ia dengan membabibuta menentang gereja. Namun kenyataannya, biar sedikit kebenaran, tidak akan diputuskan oleh beribu-ribu umpatan kejahatan.




(bersambung pada edisi berikut)

Minggu, 10 Mei 2020

GURU YANG BAIK


GURU YANG BAIK
Oleh. Lazarus Djami, S.Th.

Adalah,
Guru mampu menjawab pertanyaan (sebagai pikiran murid)
Jawaban guru dasar pertimbangan masa depan.
Pertanyaan, gambaran efektifnya pembelajaran, sebagai tolak ukur kemampuan menganalis dan melrangsang aktivitas guru dan murid

Jumat, 08 Mei 2020

JADILAH PRIBADI YANG KUAT

JADILAH PRIBADI YANG KUAT
Goresan, 08 Mei 2020-Lazarus Djami, S.Th.


Ada saatnya engkau menangis, maka tangisilah apa yang pantas ditangisi.
Sebab ketika engkau menangis, itupun bahagiamu.
Kini,
Tersenyumlah semasih engkau bisa melakukannya, walau engkau punya seribu alasan untuk menangis.

Kamis, 07 Mei 2020

GUNAKAN PELUANG YANG ADA SEMASIH ENGKAU DIMUNGKINKAN,
BERBESAR DIRILAH JIKA HAMBATAN ENGKAU TEMUI, KARENA HAMBATAN JUGA ADALAH PELUANG.
JANGAN MENUNGGU PELUANG ITU DATANG PADAMU, KEJARLAH, MAKA KESUKSESAN ENGKAU AKAN RAIH
Kamis, 07 Mei 2020
Lazarus Djami, S.Th.

Senin, 04 Mei 2020


KETEGASAN SETDA KABUPATEN SUMBA TIMUR
DALAM MENANGANI KASUS PENYEBARAN COVID 19
Kamis, 30 April 2020

Sekretaris Dinas Kesehatan Tinus Njuru Mbaha, memberikan penjelasan bahwa semua pintu masuk darat, udara dan laut, ke Kabupaten Sumba Timur perlu di jaga. Hal itu kami telah membuat beberapa posko dengan menempatkan beberapa petugas kesehatan seperti di Lewa, dan Hahar. Harapan bagi semua Desa/Kelurahan di seluruh Kabupaten Sumba Timur, akan melakukan seperti Desa Kadumbul yang mengkarantinakan setiap warganya yang datang dari luar daerah, hal ini sebagai bentuk kepedulian, dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

Selain itu, Dinas kesehatan akan melakukan berdasarkan keputusan rapat bersama Setda Kabupaten Sumba Timur untuk dan harus memeriksa, semua yang masuk ke Kab. Sumba Timur. Maka untuk sementara semua truk pembawa logistik dan alat kesehatan diarahkan ke lapangan Prailiu untuk dicek kesehatan mereka sebagai (ODP). Jika ada gejala Covid dari hasil pemeriksaan dokter akan diisolasi, dan jika tidak akan dipulangkan.


Menanggapi persoalan penyebaran Covid-19, Setda Kabupaten Sumba Timur, Bpk. Domu Warandoy, SH.M.S.i, memeriksa dengan cermat langsung ke lokasi di lapangan Rihi Eti-Prailiu. Ketika diwancarai perihal kedatangan logistic dan alat kesehatan tersebut, Setda Kabupaten Sumba Timur menandaskan bahwa: kami dengan tegas menyatakan akan memeriksa semua penumpang dan mencek langsung apakah ada penumpang gelap atau tidak. Mengetahui bahwa ada beberapa penumpang yang bukan kernet, , salah satu sopir mengaku ia membantu dengan alasan kasihan,….


Dari 26 sopir truk, seharusnya juga hanya ada 26 kernet dan tidak lebih. Setda Kb. Sumba Timur menanyakan kepada sopir, apakah ada kernet yang tertinggal di kapal?, ya, ada yang tertinggal …selain itu, ternyata ada beberapa yang bukan kernet. Maka Setda Kab. Sumba Timur bertemu langsung dengan beberapa penumpang tersebut dan menanyai alasan mengapa mereka bisa lolos dalam pemeriksaan.
Untuk saat ini, kapal Egon yang diprioritas memuat logistik dan peralatan kesehatan sehubungan dengan Covid 19, bahwa penumpang biasa tidak boleh naik? Semua penumpang itu menjawab mereka tahu, tetap mereka sendiri tidak ada jalan untuk kembali. Maka dengan berbagai cara mereka berjuang Beberapa penumpang memberikan alasannya: salah satu penumpang, tidak ada pilihan lain untuk kembali, selain harus melawan aturan dan pulang Sumba. Selain sopir dan kernet, ternyata ada 12 orang penumpang diluar ketentuan, diantaranya ada 2 perempuan yang mengaku diri mereka sebagai istri sopir. Dan setelah di cek, ternyata mereka bukan istri sopir.
Setda Kabupaten Sumba Timur menegaskan,
Pengawasan di Lembar tidak propesional, tidak bekerja dengan baik dan tidak membantu pencegahan penularan Covid 19 di Sumba. Ia menambah supaya dibuat surat jalan/keterangan yang menyatakan kebenaran bahwa betul sehingga tidak ada manipulasi data.
Ilham sebagai penanggungjawab kapal tersebut: menandas kami sudah menyatakan dengan jelas bahwa, sopir dan kernet harus ada surat keterangan jika tidak, kapal egon tidak diberangkatkan, setelah disepakati, maka kapal dioperasikan. Dan pada kemudian hari akan lebih diprotek lebih lagi. Semua diperiksa dan difilter, dan  dari SDM, dan terkahir oleh TNI sehingga ada 20 orang tidak naik.
Akhirnya, ke-12 penumpang diangkut oleh mobil dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur untuk diperiksa.
(Lazarus Djami)


GEREJA RUMAH


GEREJA RUMAH
OLEH: LAZARUS DJAMI

Suatu pergumulan dan tangisan gereja dalam situasi yang pada akhirnya persekutuan lagi tidak dilakukan. Ada banyak pemahaman dalam hal ini. Tetapi bagi kita, persekutuan itu penting, Ibrani 10:25
dan janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita bersama, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang. Akan tetapi, marilah kita saling menguatkan, terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan* sudah semakin dekat.”
Makna persekutuan, bagi umat Kristen sangat penting dan begitu indah (Mazmur 122, 128)
Gereja rumah
Adalah suatu hal atau kebiasan yang asing dilakukan oleh gereja terutama aliraqn Calvinis. Memang dalam sejarah gereja, gereja rumah terjadi di bebarapa tempat yang begitu sulit akan menerima Kristus sebagai Tuhan mereka. Sehingga penganiayaan terjadi, persekutuan susah dilakukan, maka tercatatlah dalam sejarah gereja ada pertemuan-pertemuan rahasia, perkumpulan di tempat-tempat tertentu, yang mungkin sebagian orang tahu dalam lambang “Ikan”.
Gereja rumah hanyalah sebuatan, tetapi sesungguhnya hanyalah sebuah perenungan tata cara ibadah.
Jika hari ini kita diperhadapkan dengan pilihan, beribadah di dalam gereja atau perenungan Firman di rumah masing-masing, merupakan hal yang sedikit menggoncangkan kita. Ya memang begitu lain. Tetapi sekiranya saudara-saudara kita yang sudah melakukan hal itu, sekiranya tidak mengecilkan dan menyamakan anatara keduannya, tetap ada perbedaan.
Sebabagai contoh,
Sebatang kayu yang dibakar,….lama kelamaan aka mati, tetapi ketika dikumpulkan beberapa kayu yang dibakar, maka api semakin besar,….begitulah makna persekutuan yang sesungguhnya,….di sana ada teguran, di sana ada saling menasehati, ingatkah saudara akan Mazmur Mzm 84:10  Sebab, satu hari di pelataran-Mu lebih baik, daripada seribu hari di tempat lain. Aku lebih memilih menjadi penjaga ambang pintu di rumah Allahku, daripada tinggal di kemah-kemah kefasikan.
Persekutuan orang kudus, ini memang penting,
Jika ibadah dirumah sama dengan ibadah di dalam  rumah Tuhan, mengapa Allah melakukan untuk mengumpulkan umat-Nya dalam suatu persekutuan khusus?
PL           : Ada Kemah Pertemuan/kemah Suci
PB           : Ada Bait Allah, sinagoge, tempat persekutuan/gereja
Jika gereja merasa ibadah itu PENTING  silahkan, berdasarkan surat edaran Kapolri, pada point b, yang telah dikutib oleh Deputat perhubungan dalam beberapa waktu yang lalu. Ibadah dengan tidak melalaikan dengan memperhatiakan aturan:
1. Jaga jarak
2. Cuci tangan
3. Masker
Bijaklah dalam menilai zaman ini,
Sekarang jika gereja diliburkan, itu berarti bukanlah gereja yang melakukan,…..gereja di bumi dapat dibubar jika Kepala Gereja memuliakannya. Adakah kita berani berkata, kami libur, sementara tuan masih bekerja sampai hari ini? Yoh 5:17  Akan tetapi, Yesus berkata kepada mereka, "Bapa-Ku masih bekerja sampai saat ini, maka Aku pun masih bekerja."
Maka jika ada pelarangan untuk tidak beribadah, minta kejelasan:
Sekiranya kita menaati b ukan karena takut kepada pemerintah, tetapi takut akan Allah yang telah menempatkan mereka sebagai hamba Allah (Rom.6:1-4) “ 1  Hendaklah setiap orang tunduk kepada pemerintah yang berkuasa atasnya sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah, dan mereka ditetapkan oleh Allah. 2  Oleh karena itu, siapa pun yang menentang pemerintah, ia menentang ketetapan Allah, dan mereka yang menentang akan mendatangkan hukuman atas dirinya.3  Sebab, pemerintah tidak menyebabkan ketakutan pada yang berbuat baik, tetapi pada yang berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa rasa takut terhadap pemerintah? Lakukanlah apa yang baik, dan kamu akan mendapat pujian darinya 4  sebab mereka adalah pelayan Allah demi kebaikanmu. Akan tetapi, jika kamu melakukan apa yang jahat, takutlah sebab bukan tanpa alasan pemerintah menyandang pedang. Mereka adalah pelayan Allah, penuntut balas yang menjalankan murka Allah kepada orang yang berbuat jahat.”
Ingatlah, Mazmur 99:3
TUHAN cintai
Hukum di bumi.
Untuk umat-Nya
Ditegakkan-Nya
Hak, kelurusan
Dan keadilan.
Patut kami puji
Raja Yang Ilahi”

Kekuatiran kita, situasi demikian dimanfaatkan oleh Iblis. Semoga tidak!!!!
Semoga bermanfaat, dari saudaramu,….Lazarus Djami, S.Th.