Senin, 04 Mei 2020


KETEGASAN SETDA KABUPATEN SUMBA TIMUR
DALAM MENANGANI KASUS PENYEBARAN COVID 19
Kamis, 30 April 2020

Sekretaris Dinas Kesehatan Tinus Njuru Mbaha, memberikan penjelasan bahwa semua pintu masuk darat, udara dan laut, ke Kabupaten Sumba Timur perlu di jaga. Hal itu kami telah membuat beberapa posko dengan menempatkan beberapa petugas kesehatan seperti di Lewa, dan Hahar. Harapan bagi semua Desa/Kelurahan di seluruh Kabupaten Sumba Timur, akan melakukan seperti Desa Kadumbul yang mengkarantinakan setiap warganya yang datang dari luar daerah, hal ini sebagai bentuk kepedulian, dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

Selain itu, Dinas kesehatan akan melakukan berdasarkan keputusan rapat bersama Setda Kabupaten Sumba Timur untuk dan harus memeriksa, semua yang masuk ke Kab. Sumba Timur. Maka untuk sementara semua truk pembawa logistik dan alat kesehatan diarahkan ke lapangan Prailiu untuk dicek kesehatan mereka sebagai (ODP). Jika ada gejala Covid dari hasil pemeriksaan dokter akan diisolasi, dan jika tidak akan dipulangkan.


Menanggapi persoalan penyebaran Covid-19, Setda Kabupaten Sumba Timur, Bpk. Domu Warandoy, SH.M.S.i, memeriksa dengan cermat langsung ke lokasi di lapangan Rihi Eti-Prailiu. Ketika diwancarai perihal kedatangan logistic dan alat kesehatan tersebut, Setda Kabupaten Sumba Timur menandaskan bahwa: kami dengan tegas menyatakan akan memeriksa semua penumpang dan mencek langsung apakah ada penumpang gelap atau tidak. Mengetahui bahwa ada beberapa penumpang yang bukan kernet, , salah satu sopir mengaku ia membantu dengan alasan kasihan,….


Dari 26 sopir truk, seharusnya juga hanya ada 26 kernet dan tidak lebih. Setda Kb. Sumba Timur menanyakan kepada sopir, apakah ada kernet yang tertinggal di kapal?, ya, ada yang tertinggal …selain itu, ternyata ada beberapa yang bukan kernet. Maka Setda Kab. Sumba Timur bertemu langsung dengan beberapa penumpang tersebut dan menanyai alasan mengapa mereka bisa lolos dalam pemeriksaan.
Untuk saat ini, kapal Egon yang diprioritas memuat logistik dan peralatan kesehatan sehubungan dengan Covid 19, bahwa penumpang biasa tidak boleh naik? Semua penumpang itu menjawab mereka tahu, tetap mereka sendiri tidak ada jalan untuk kembali. Maka dengan berbagai cara mereka berjuang Beberapa penumpang memberikan alasannya: salah satu penumpang, tidak ada pilihan lain untuk kembali, selain harus melawan aturan dan pulang Sumba. Selain sopir dan kernet, ternyata ada 12 orang penumpang diluar ketentuan, diantaranya ada 2 perempuan yang mengaku diri mereka sebagai istri sopir. Dan setelah di cek, ternyata mereka bukan istri sopir.
Setda Kabupaten Sumba Timur menegaskan,
Pengawasan di Lembar tidak propesional, tidak bekerja dengan baik dan tidak membantu pencegahan penularan Covid 19 di Sumba. Ia menambah supaya dibuat surat jalan/keterangan yang menyatakan kebenaran bahwa betul sehingga tidak ada manipulasi data.
Ilham sebagai penanggungjawab kapal tersebut: menandas kami sudah menyatakan dengan jelas bahwa, sopir dan kernet harus ada surat keterangan jika tidak, kapal egon tidak diberangkatkan, setelah disepakati, maka kapal dioperasikan. Dan pada kemudian hari akan lebih diprotek lebih lagi. Semua diperiksa dan difilter, dan  dari SDM, dan terkahir oleh TNI sehingga ada 20 orang tidak naik.
Akhirnya, ke-12 penumpang diangkut oleh mobil dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur untuk diperiksa.
(Lazarus Djami)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar