Marapu Sumba
Marapu adalah salah sebuah aliran kepercayaan
asli atau kepercayaan tradisional orang Sumba.
Para
marapu itu dipercayai sebagai perantara antara manusia dengan sang
Alkhalik.sebab orang yang sudah mati itu sudah menjadi roh. Dalam keadaan roh
lah Alkhalik itu dapat didekati, sehingga Marapu itu adalah “lindi
papapalangu – ketu papajolangu” (titian yang
diseberangkan, kaitan yang disorongkan), yang artinya sebagai jembatan, sebagai
perantara, sebagai penyambung lidah, sebagai penghubung.
Prof. Dr. L. Onvlee, dan Dr. Umbu Hina Kapita,
kata “ma-ra-pu” merupakan kata jadian, yang kata asalnya rapu dengan memakai
awalan “ma”, = yang
Kata rapu (bukan rappu)
Dari
awalan “ra” dengan akar kata “pu”. Awalan “ra” seperti yang terdapat pada kata
ra-tu (=sang tuan, yang dipertuan, raja); juga pada kata “ra-ma” (=sang bapa,
bapa yang mulia). Demikian pula dalam kata “ra-pu” (=sang puan, yang dipertuan,
yang didewakan, dewata).
Akar kata “pu” masih kita dapati dalam kata
“pu-an” (=tuan, encik, panggilan wanita yang mulia); demikian pula yang kita
dapati di dalam kata “per-empu-an” (= yang dimuliakan, perempuan). Kita dapati
juga dalam kata “em-pu”, gelaran orang yang dimuliakan, seperti Empu Sindok,
Empu Panuluh dan lain-lain.
Pendeta Dr. A. A. Yewangoe. Pendeta ini menduga
bahwa kata marapu terdiri dari dua kata yaitu ma dan rappu. “Ma” berarti “yang”
sedangkan “rappu” artinya tersembunyi. Dengan demikian, Marapu berarti yang
tersembunyi atau “sesuatu yang tersembunyi”, yang tak dapat dilihat.
Pdt. Yewangoe juga memberi kemungkinan lain,
yaitu dengan mengatakan bahwa terdapat kemungkinan kata Marapu terdiri dari dua kata yaitu kata “mera” dan “appu”. “Mera” berarti
”serupa” dan “appu” berarti nenek moyang sehingga “Marapu” berarti “serupa
dengan nenek moyang.” (Wellem, 2004).
Tunggul Nggodu (Nggodu, 2003), seorang wunang
terkenal di Lewapaku, arti kata “marapu” adalah “ma = yang”, “ra=norma” dan “pu
= mengkristal ke dasar”. Marapu mengandung makna “yang telah tuntas, telah
selesai dan beres, artinya jasad manusia sudah dikuburkan dengan resmi sesuai
tatakrama dan hukum adat, sudah dimasukkan ke dalam liang lahat di tanah,
tetapi jiwanya sudah diserahkan melalui upacara-upacara kepada Sang Pencipta,
Sang Alkhalik (Nggodu, 2003).
Upacara Pamangu Ndewa – Pahomba (Perjamuan Dewa
dan Ilah), yang seharusnya dilakukan sekali dalam tiap 7 atau 8 tahun.
Tuhan tidak boleh diucapkan sembarang,…
Disebut berdasarkan sifat:
Ina Ukurungu – Ama Mbulungu
Tuan Tanah
Mangili:
Máru – Watu Bulu, Matolang – Wanggi Rara,
Lewa:
Matolangu – Parai Majangga, Páda – Pupu Deru.
Kambera: Mbájiku – Parai Karaha, Kahiku – Ana
Mburungu.
Tabundung: Hau – Hari Kundu Wátangu – Duku Watu
Anakalang: Anakalangu – Da Meka, Kabaila Wanutu
– Wai Lawa.
Memboro:
Pasoka – Muri Tana Karoku – Mamboru
Umalulu: Palai Malamba – Watu Pelitu Lamuru –
Luku Walu.
Sumba Barat bagian Barat:
Lolina: kabisu-kabisu Koba – Wola; di Wewewa :
kabisu-kabisu Lewata – Mangutana,
Laura : kabizu-kabizu Natara Tana – Mbu
Karegha; di Kodi : Kodi – Umbu Ngedo; di Rara : Rara – Umbu Wangu
Tokoh-tokoh tertentu dalam suatu kabihu
(marga):
a. Na Ina Mahanggula na Ama Mahanganji;
bertugas Memerintah (=Pemerintah)
b. Watu la Hanamba, Ai Ngaru Pindu (batu di
depan rumah, kayu mulut pintu)
Persembahan kepada leluhur; Na Njara Ndindi
Kiku, Na Ahu Miti Láma (kuda yang tegak ekor, anjing yang hitam lidah)
Dongeng:
Kabihu Watubulu dan Matolangu, yang mempunyai
kuda-kuda yang ternama: Anakaka – Kamáru Langga, Ilu Makarangu – Londa Kababa;
Kabihu Karindingu mempunyai kuda-kuda: Habiliru
– Hanganji, Hanggápitu – Walawunga. marapu ahu: cikal bakal anjing; seperti
kabihu Máru– Watubulu mempunyai anjing-anjing yang bernama: Njaliku – Tawongu,
Didiku – Mbualuku;
Kabihu Karopangu mempunyai anjing-anjing yang
bernama: Kambalu – Marámba Ahu, Lembaru – Ndakunjingi; marapu ularu: cikal
bakal ular, dalam mitos kabihu Kabulingu, leluhur mereka bersahabat dengan ular
yang mereka dewakan, bernama: Ndewa Kati – Ndewa Ngara;
Marapu wuya: cikal bakal buaya; dalam mitos kabihu Wawangu/ Tarimbangu, leluhur
mereka adalah siluman buaya yang bernama: Wuya Makalitu – Kapiri Maralangu;
marapu kabála: dewa kilat, yang dipuja oleh
kabihu Kabunu – Daindipi, dua kabihu yang berasal dari Sawu. Marapu mereka yang
bernama Umbu Ropa, mempunyai relasi dengan dewa kilat yang bernama: Kabála
Manjapai (kilat Majapahit).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar