Rabu, 06 Juli 2022

Marapu, Kepercayaan Sumba

 

Marapu Sumba

 

Marapu adalah salah sebuah aliran kepercayaan asli atau kepercayaan tradisional orang Sumba.

Para marapu itu dipercayai sebagai perantara antara manusia dengan sang Alkhalik.sebab orang yang sudah mati itu sudah menjadi roh. Dalam keadaan roh lah Alkhalik itu dapat didekati, sehingga Marapu itu adalah “lindi papapalangu ketu papajolangu” (titian yang diseberangkan, kaitan yang disorongkan), yang artinya sebagai jembatan, sebagai perantara, sebagai penyambung lidah, sebagai penghubung.

Prof. Dr. L. Onvlee, dan Dr. Umbu Hina Kapita, kata “ma-ra-pu” merupakan kata jadian, yang kata asalnya rapu dengan memakai awalan “ma”, = yang

Kata rapu (bukan rappu)

Dari awalan “ra” dengan akar kata “pu”. Awalan “ra” seperti yang terdapat pada kata ra-tu (=sang tuan, yang dipertuan, raja); juga pada kata “ra-ma” (=sang bapa, bapa yang mulia). Demikian pula dalam kata “ra-pu” (=sang puan, yang dipertuan, yang didewakan, dewata).

Akar kata “pu” masih kita dapati dalam kata “pu-an” (=tuan, encik, panggilan wanita yang mulia); demikian pula yang kita dapati di dalam kata “per-empu-an” (= yang dimuliakan, perempuan). Kita dapati juga dalam kata “em-pu”, gelaran orang yang dimuliakan, seperti Empu Sindok, Empu Panuluh dan lain-lain.

 

Pendeta Dr. A. A. Yewangoe. Pendeta ini menduga bahwa kata marapu terdiri dari dua kata yaitu ma dan rappu. “Ma” berarti “yang” sedangkan “rappu” artinya tersembunyi. Dengan demikian, Marapu berarti yang tersembunyi atau “sesuatu yang tersembunyi”, yang tak dapat dilihat.

Pdt. Yewangoe juga memberi kemungkinan lain, yaitu dengan mengatakan bahwa terdapat kemungkinan kata Marapu terdiri dari dua kata yaitu kata “mera” dan “appu”. “Mera” berarti ”serupa” dan “appu” berarti nenek moyang sehingga “Marapu” berarti “serupa dengan nenek moyang.” (Wellem, 2004).

Tunggul Nggodu (Nggodu, 2003), seorang wunang terkenal di Lewapaku, arti kata “marapu” adalah “ma = yang”, “ra=norma” dan “pu = mengkristal ke dasar”. Marapu mengandung makna “yang telah tuntas, telah selesai dan beres, artinya jasad manusia sudah dikuburkan dengan resmi sesuai tatakrama dan hukum adat, sudah dimasukkan ke dalam liang lahat di tanah, tetapi jiwanya sudah diserahkan melalui upacara-upacara kepada Sang Pencipta, Sang Alkhalik (Nggodu, 2003).

Upacara Pamangu Ndewa – Pahomba (Perjamuan Dewa dan Ilah), yang seharusnya dilakukan sekali dalam tiap 7 atau 8 tahun.

Tuhan tidak boleh diucapkan sembarang,…

 

Disebut berdasarkan sifat:

Ina Ukurungu – Ama Mbulungu

 

Tuan Tanah

Mangili:

Máru – Watu Bulu, Matolang – Wanggi Rara,

Lewa:

Matolangu – Parai Majangga, Páda – Pupu Deru.

Kambera: Mbájiku – Parai Karaha, Kahiku – Ana Mburungu.

Tabundung: Hau – Hari Kundu Wátangu – Duku Watu

Anakalang: Anakalangu – Da Meka, Kabaila Wanutu – Wai Lawa.

Memboro:
Pasoka – Muri Tana Karoku – Mamboru

Umalulu: Palai Malamba – Watu Pelitu Lamuru – Luku Walu.

Sumba Barat bagian Barat:

Lolina: kabisu-kabisu Koba – Wola; di Wewewa : kabisu-kabisu Lewata – Mangutana,

Laura : kabizu-kabizu Natara Tana – Mbu Karegha; di Kodi : Kodi – Umbu Ngedo; di Rara : Rara – Umbu Wangu

 

Tokoh-tokoh tertentu dalam suatu kabihu (marga):

a. Na Ina Mahanggula na Ama Mahanganji; bertugas Memerintah (=Pemerintah)

b. Watu la Hanamba, Ai Ngaru Pindu (batu di depan rumah, kayu mulut pintu)

 

Persembahan kepada leluhur; Na Njara Ndindi Kiku, Na Ahu Miti Láma (kuda yang tegak ekor, anjing yang hitam lidah)

 

 

 

Dongeng:

Kabihu Watubulu dan Matolangu, yang mempunyai kuda-kuda yang ternama: Anakaka – Kamáru Langga, Ilu Makarangu – Londa Kababa;

Kabihu Karindingu mempunyai kuda-kuda: Habiliru – Hanganji, Hanggápitu – Walawunga. marapu ahu: cikal bakal anjing; seperti kabihu Máru– Watubulu mempunyai anjing-anjing yang bernama: Njaliku – Tawongu, Didiku – Mbualuku;

Kabihu Karopangu mempunyai anjing-anjing yang bernama: Kambalu – Marámba Ahu, Lembaru – Ndakunjingi; marapu ularu: cikal bakal ular, dalam mitos kabihu Kabulingu, leluhur mereka bersahabat dengan ular yang mereka dewakan, bernama: Ndewa Kati – Ndewa Ngara;

Marapu wuya: cikal bakal buaya; dalam mitos kabihu Wawangu/ Tarimbangu, leluhur mereka adalah siluman buaya yang bernama: Wuya Makalitu – Kapiri Maralangu;

marapu kabála: dewa kilat, yang dipuja oleh kabihu Kabunu – Daindipi, dua kabihu yang berasal dari Sawu. Marapu mereka yang bernama Umbu Ropa, mempunyai relasi dengan dewa kilat yang bernama: Kabála Manjapai (kilat Majapahit).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar